Rabu, 17 Februari 2021

Serial Jiinipedia Islami (17)


 

Hukum Menjadi Utusan Jin dalam Islam


By. Hasan Bishri, Lc. 

(Ketua II ARSYI dan Direktur Graha Ruqyah Salemba Jakarta, 081225211779)

Siapakah yang dimaksud dengan Utusan Jin (baca; Rasul Iblis)? Adakah manusia yang dengan sadar dan sengaja mau menjadi Rasul Iblis? Lalu bagaimana hukum profesi tersebut dalam Syari’at Islam? Dan hukum uang atau penghasilan yang didapat dari profesi tersebut? Simaklah pernyataan dari DR. Umar Sulaiman al-Asyqor rahimahullah berikut. “Siapa yang mempelajari Sejarah manusia pasti dia mengetahui bahwa Dukun-dukun dan Tukang Sihir berperan seperti para Rasul (Utusan), tapi mereka adalah Para Rasul Syetan.

Suara (petunjuk) Para Tukang Sihir dan Para Dukun didengar oleh para pengikutnya, mereka menghalalkan sesuatu dan mengharamkannya, dan mereka mengambil imbalan atau upah dari profesinya, bahkan mereka menyuruh para pengikutnya dengan ritual atau ibadah tertentu yang diridhoi oleh syetan. Ada yang menyuruh untuk memutus tali silaturrahim, melecehkan dan menodai kehormatan. Al-Aqqod telah menjelaskan hal itu dalam kitabnya yang berjudul Iblis.” (Kitab Alamul Jin wasy Syayathin: 121)


Hukum Membuka Praktik Perdukunan

Apa hukumnya membuka praktik Perdukunan? Majlis Ulama’ Indonesia (MUI) sudah menegaskan bahwa hal itu Haram hukumnya. Fatwa tentang Perdukunan (Kahanah) telah dikeluarkan MUI pada Munas ke VII tahun 2005, yaitu segala bentuk praktik perdukunan (Kahanah) dan peramalan ('Irafah) hukumnya Haram. Mempublikasikan praktik perdukunan dan peramalan dalam bentuk apapun hukumnya Haram. Memanfaatkan dan menggunakan atau mempercayai segala praktik perdukunan dan peramalan hukumnya Haram. (Lihat htp://mui.or.id),

Dalam hadits yang shahih, Rasulullah saw. telah menegaskan akan haramnya membuka praktik perdukunan atau menjadi utusan Iblis di tengah masyarakat atau yang memanfaatkan jasa perdukunan, bahkan Rasulullah saw. tidak mengakui mereka sebagai bagian dari ummatnya. Ibnu Abbas ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Bukan golongan kami orang yang berpraktik sihir dan yang memanfaatkan jasa tukang sihir, dan orang yang bertathoyyur (meramal) atau memakai jasa peramal, dan orang yang berpraktik perdukunan dan memakai jasa Dukun.” (HR. Bazzar dan dishahihkan oleh Imam al-Haitsami)

Bahkan Rasulullah saw. juga menegaskan bahwa para Dukun itu kalau tidak segera bertaubat sebelum ajal tiba, maka mereka akan mati masuk Neraka. Simaklah riwayat berikut: “Suatu hari datanglah sekelompok orang ke Nabi saw. Mereka menganggap bahwa Rasulullah termasuk orang yang bisa mengetahui hal ghaib. Mereka menyembunyikan sesuatu di genggaman tangan, mereka berkata pada Nabi, “Beritahu kami, apa yang kami sembunyikan? Dengan lantang Rasulullah saw. bersabda: ‘Sesungguhnya aku bukanlah Dukun. Karena Dukun dan orang yang berpraktik perdukunan semuanya tempatnya di Neraka.” (HR. Tirmidzi)


Penghasilan Dari Praktik Perdukunan

Apakah Anda masih ingat tentang Fenomena Dukun Cilik Ponari dari Jombang Jawa Timur yang sempat Viral di Media Massa dan Media Sosial? Karena membludaknya pasien Ponari, kehidupan Ekonominya pun berubah drastis. Simak laporan Kompas.com berikut: Keluarga menyebut hasil dari pengobatan Ponari sempat terkumpul uang Rp 1 miliar lebih. Dengan uang sebanyak itu, dia mampu membangun rumah yang sangat layak, membeli dua bidang sawah seluas dua hektar, sepeda motor, dan perabotan rumah tangga. Ya, dari praktik perdukunannya, Ponari jadi kaya mendadak.

Di negeri yang notabene sebagai populasi Muslim terbesar di Dunia, masih banyak ‘Ponari-Ponari’ lain, bahkan lebih kaya, sampai ada yang bisa membangun Istana dari hasil perdukunan. Hasil praktik perdukunan memang manis rasanya, karena banyaknya masyarakat kita yang percaya dan yakin dengan kinerja para Dukun, sehingga mereka rela berjubel dan antri di tempat praktik Dukun. Bahkan kalau harus bayar mahal untuk biaya ritual pengobatan mereka mau. Profesi perdukunan menjadi profesi yang menjanjikan secara Finansial. Makanya banyak bermunculan praktik ‘Dukun Palsu’ agar bisa mengeruk harta pasien yang datang.

 Lebih dari 20 tahun Penulis melayani praktik Ruqyah Syar’iyah, di antara pasien yang datang menceritakan perjalanan mereka mencari pengobatan. Ada yang telah datang ke beberapa orang dukun, bahkan ada yang bilang telah berobat ke seratus dukun, tapi sakit mereka tak kunjung sembuh juga. Ada yang sudah habis ratusan Juta bahkan Miliaran rupiah untuk membayar jasa Dukun terkenal dan tenar. Tapi untuk terapi Ruqyah Syar’iyah mereka punya prinsip sendiri: Ruqyah Syar’iyah kan terapi Qur’an, maka baiknya para Ustadz ikhlas dan tidak usah dibayar. Yang Haram mereka mau bayar mahal, sedangkan Ruqyah Syar’iyah yang Halal minta digratiskan. Ironis memang, aneh tapi nyata.

Lalu bagaimana hukumnya Uang hasil dari praktik Perdukunan, halal atau haram? Simaklah hadits Rasulullah berikut: Abu Hurairah ra. menyampaikan bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak Halal uang hasil penjualan Anjing, dan hasil dari perdukunan, dan hasil dari pelacuran.” (HR. Abu Daud, dan dishahihkan Syekh al-Albani). Dan di riwayat lain, Abu Mas’ud ra. berkata: Bahwasannya Rasulullah saw. mengharamkan uang hasil penjualan Anjing, hasil pelacuran (prostitusi), dan uang hasil praktik perdukunan.” (HR. Bukhari).

Jadi Haram hukumnya berprofesi sebagai Dukun atau orang yang berpraktik perdukunan, dan uang yang dihasilkan juga haram hukumnya jika mereka konsumsi, baik untuk dirinya sendiri, untuk menafkahi keluarganya, atau untuk disumbangkan ke fakir miskin atau dana sosial lainnya. Bahkan Rasulullah saw. menyandingkannya dengan uang hasil penjualan Anjing dan hasil Prostitusi. Yang mendatangi dukun atau orang yang memanfaatkan jasa perdukunan juga dilarang, bahkan Rasulullah saw. tidak mengakui mereka sebagai ummatnya. Na’udzu billahi min dzalik.

Sabtu, 13 Februari 2021

Serial Jinnipedia Islami (16)



Cara Menutup Mata Jin Genit dan Mesum

By. Hasan Bishri, Lc. 

(Direktur Graha Ruqyah Salemba Jakarta, 081225211779)

Aurat berasal dari Bahasa Arab, yang artinya bagian tubuh yang tidak boleh tampak dalam hukum Islam (jadi harus selalu tertutup). Aurat juga bisa bermakna kemaluan. (Lihat Kamus Umum Bahasa Indonesia: 91). Begitulah normalnya manusia yang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, merasa malu jika auratnya kelihatan apalagi sengaja memperlihatkannya. Meskipun saat ini sudah banyak orang yang sudah tidak malu memperlihatkan auratnya di depan publik, mereka sudah kehilangan rasa malu, dan tidak takut akan adzab Neraka di akhirat nanti.

Simaklah ancaman keras dari Rasulullah saw. berikut: “Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah saya lihat keduanya itu. Pertama:  Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka pakai buat memukul orang (yaitu Penguasa yang zhalim dan kejam). Kedua: Perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, yang cenderung ke perbuatan maksiat dan memancing orang lain berbuat maksiat, rambutnya seperti punuk Unta. Mereka tidak akan masuk Surga, bahkan tidak dapat mencium wanginya Surga, padahal aroma Surga itu sudah tercium dari sekian jauh perjalanan.” (HR. Muslim). Na’uudzu billaahi min dzaalik.


Ada Jin Mesum yang Matanya Jelalatan

Ketahuilah bahwa kita hidup di dunia ini bersama yang nyata (tampak mata) dan yang ghaib (tak nampak mata). Mereka ada bersama kita, termasuk saat kita berada di kamar pribadi yang tertutup dan terkunci. Dan saat kita di Toilet atau kamar mandi yang kecil dan sempit. Saat kita membuka baju alias telanjang di kamar, tidak ada mata manusia lain yang melihat. Begitu pula saat kita lepas pakaian di Toilet atau kamar mandi, tak ada mata genit manusia lain yang memandang. Aurat kita aman dari pandangan mereka insya Allah.

Tapi ternyata ada makhluk lain selain manusia yang harus kita waspadai pandangannya, mereka bisa bebas menikmati lekuk tubuh kita dan melihat detil aurat kita. Siapakah mereka itu? Mereka adalah Syetan-Syetan Jin bermata genit dan nakal. Mereka bisa berada di kamar ganti baju kita, dan mereka bisa berada di Toilet saat kita telanjang sedang buang hajat, atau saat kita tanpa busana di kamar mandi. Mereka dengan bebas memandang aurat kita. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Ada beberapa kasus pernah dialami pasien yang datang ke Penulis yang minta diterapi Ruqyah Syar’iyah. Di antara faktor gangguan Jin yang menimpa pasien adalah Jin itu jatuh cinta kepada pasien. Ya, ada jin yang tertarik dengan manusia lalu ia merasuki tubuh manusia tersebut. Sehingga orang yang dirasuki Jin tersebut susah dapat jodoh. Atau sudah berumah tangga, tapi tidak harmonis dan sering terjadi pertengkaran sehingga akhirnya bercerai. 

Saat diterapi ruqyah, Jin yang merasuki pasien tersebut ada ngomong bahwa dia telah jatuh cinta pada pasien. Dia gak rela kalau pasien itu nikah sama orang lain. Tidak hanya kaum wanita yang mengalami gangguan seperti itu, kaum pria juga ada. Bahkan yang membuat Penulis kaget, bahwa pernah ada Jin yang merasuki tubuh pasien, yang mengaku bahwa dia telah lama memperhatikan pasien saat telanjang di kamar dan saat mandi. Lalu ia tertarik dengan keindahan tubuhnya. Wallahu a’lam. 

Cara Menutup Mata Jin Genit

Masya Allah... Syari’at Islam sungguh luar biasa. Sangat lengkap dan sempurna, apa yang kita perlukan telah disiapkan oleh Yang Maha Mengetahui dan Maha Luas ilmu-Nya, yaitu Allah ta’ala. Termasuk bagaimana cara kita mengamankan diri dari jelalatannya Mata Jin yang Genit dan mesum, saat kita buka dan ganti baju di kamar, atau saat kita buka busana di Toilet dan kamar mandi. Caranya sangat simpel dan sederhana, tapi paten dan manjur khasiat dan kegunaannya. Bagaimana caranya?

Perhatikanlah cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw. berikut: “Penutup antara Mata Jin dan aurat anak adam adalah apabila ia mau masuk Toilet hendaklah membaca: Bismillah.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan dishahihkan Syekh al-Albani). Di riwayat lain: “Penutup antara aurat anak Adam dan Mata Jin apabila ia melepaskan pakaiannya hendaklah ia membaca: Bismillah.” (HR. Thabrani, Ibnu Abi Syaibah dan dihasankan Imam al-Haitsami).

Hanya membaca Bismillah? Betul, hanya membaca Bismillah kita akan aman dari Mata Genit Syetan Jin. Sangat simpel dan sederhana, namun sarat nilai Tauhid dan bersih dari ritual syirik. Itulah petunjuk yang benar dan harus kita yakini kebenarannya, lalu kita amalkan dan praktikkan dalam keseharian. Kita ajarkan kepada generasi-generasi kita agar mereka melek Sunnah dan mau menghidupkannya sebagai life style generasi milenial yang islami.

Apakah bacaannya boleh dilengkapi dengan: Bismillahir rahmanir rahim? Simak jawaban dari Imam al-Munawi rahimahullah: Kenapa cukup dengan Bismillah, karena itu akan berfungsi sebagai penghalang (penutup) bagi Anak Adam, dan Syetan Jin tak akan mampu membuka atau menyingkapnya. Sebagian Ulama’ Syafi’iyah berkata: Tidak ditambah dengan ar-Rahmanir Rahim (hanya dengan Bismillah), karena bukan tempat berdzikir (maksudnya; Toilet), dan mencukupkan diri dengan tekstual hadits yang ada.” (Lihat Kitab Tuhfatul Ahwadzi: 3/ 184). Wallohul Must’an.

Jumat, 12 Februari 2021

Serial Jinnipedia Islami (15)

 


Toilet Tempat Favorit Syetan Jin


By. Hasan Bishri, Lc.

(Direktur Graha Ruqyah Salemba Jakarta, 081225211779)

Zaid bin Arqom ra. berkata: Bahwasannya Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Toilet itu tempat favorit Syetan. Apabila di antara kalian memasukinya, maka bacalah: Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari (kejahatan) Syetan Pria dan Syetan Wanita.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ahmad, Thabrani, Hakim, Nasa-i, Baihaqi, Abu Ya’la dan hadits ini dishahihkan Syekh al-Arnauth)

“Kalimat al-Khubuts dan al-Khobaits dalam hadits tersebut bisa dibaca: al-Khubtsu atau al-Khubuts. Keduanya benar menurut para Ahli Bahasa. Al-Khubutsu bentuk Jama’ (plural) dari al-Khobits, adapun al-Khobaits bentuk jama’ dari al-Khobitsah. Sedangkan arti dari al-Khubutsu wal Khobaits adalah Syetan Pria dan syetan Wanita.” (Lihat Kitab Syarun Nawawi ‘ala Shahihi Muslim: 2/ 93). 

tentang makna al-Khubutsu wal Khobaits, seperti yang dijelaskan juga oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqolani dalam Kitab Fathul Bari Syarhu Shahihil Bukhari: 1/ 230. Begitu pula yang disampaikan oleh Prof. DR. Musa Syahin, Pengarang Kitab Fathul Mun’im ‘ala Shahihi Muslim: 2/ 422. Sehingga agak aneh kalau ada yang menolak makna tersebut, lalu al-Khubuts wal Khobaits diartikan dengan Kuman, Bakteri dan Virus yang ada di kamar mandi atau toilet.


Urgensi Berdo’a Saat Masuk Toilet

Sudah lebih dari 20 tahun Penulis melakukan praktik Ruqyah Syar’iyah, dan sudah ratusan ribu pasien yang telah Penulis terapi atau obati. Di antara sekian banyak pasien itu, banyak di antara mereka yang menceritakan bahwa gangguan yang mereka alami berawal dari Toilet atau WC. Saat mereka di dalam Toilet, mereka mengalami ketakutan karena ditampaki sosok menyeramkan. Atau saat mereka buang hajat, tiba-tiba mereka mendengar suara-suara ghaib atau bisikan-bisakan. Atau begitu mereka keluar dari Toilet, mereka merasa berat di pundak atau pusing di kepala, seperti ada sesuatu yang nemplok atau mendekapnya.

 (Syetan pria dan wanita) di Toilet telah ditegaskan oleh Rasulullah dalam haditsnya yang shahih, maka kita tidak boleh mengingkari atau menolak kebenarannya. Meskipun kita tidak pernah melihat secara langsung wujud dari Syetan tersebut di Toilet, atau kita tidak pernah mengalami gangguan tertentu saat di Toilet. Itu adalah fenomena ghaib yang tidak bisa kita indra dengan panca indra kita, tapi karena Rasulullah saw. telah mengabarkannya, maka harus kita imani dan percaya akan kebenarannya. Sehingga penting sekali berdo’a sebelum memasuki Toilet atau tempat buang hajat, agar kita selalu dilindungi oleh Allah.

Ada yang pernah bertanya: Bukankah saat kita di dalam Toilet, kita tidak boleh berdzikir atau baca do’a tertentu? Lalu kenapa ada dzikir saat di Toilet? Mari kita simak jawaban dari Imam Ibnu Hajar al-Asqolani rahimahullah berikut ini: “Jika kita buang hajatnya (berak atau kencing) di tempat yang telah disiapkan secara khusus (seperti Toilet atau WC), maka kita membaca do’anya sebelum memasuki tempat tersebut. 

Tapi jika kita buang hajatnya bukan di bangunan khusus (di tempat sepi atau di tempat lain yang memungkinkan), maka kita membaca dzikir atau do’anya sebelum buang hajat, saat menyingsingkan celana atau membuka resletingnya. Dan inilah pendapat Mayoritas Ulama'. Tapi jika kita lupa, dan teringat saat telah masuk Toilet, maka kita mebaca dzikirnya di dalam hati (tidak disuarakan). (Lihat Kitab Fathul Bari: 1/ 230). Dan ini berlaku di Toilet manapun, di hotel berbintang atau di rumahan. Di tengah hutan atau di perkotaan. Suasana Toiletnya sedang sepi atau sedang ramai.


Inilah Kalimat Dzikir Atau Do’anya

Ada beberapa versi terkait susunan redaksi kalimat dzikir atau do’a masuk Toilet. Setidaknya ada 3 macam versi yang tidak jauh berbeda satu sama lain, dan semua versi itu termaktub dalam hadits yang shahih, sehingga kita boleh memilih versi mana saja yang kita mau. Berikut ini ragam kalimat dzikir atau do’a berdasarkan hadits yang shahih.

dan inilah versi yang paling polpuler atau yang selama ini kita baca. Yaitu: “Alloohumma innii a’uudzu bika minal khubutsi wal khobaaits”. Yang artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari (kejahatan) Syetan pria dan Syetan wanita. Ini berdasarkan hadits riwayat Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Nasa-i, Imam Ibnu Khuzaimah, Imam Ibnu Hibban, Imam Ahmad, Imam Abu Ya’la, Imam thabrani dan Imam Baihaqi rahimahumullah.

Versi Kedua, kalimatnya mirip dengan dzikir atau do’a versi pertama. Yaitu: “A’uudzu billaahi minal khubutsi wal khobaaits”. Yang artinya: Aku berlindung kepada Allah dari (kejahatan) Syetan pria dan Syetan wanita. Ini berdasarkan riwayat Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad, Imam Nasa-i, Imam Ibnu Hibban, Imam Baihaqi, Imam Thabrani, Imam Ibnu Abi Syaibah, Imam Abu Ya’la dan Imam Hakim rahimahumullah. 

Versi Ketiga, ini versi yang tidak terlalu populer karena tidak terdapat dalam Kitab-Kitab Hadits yang terkenal, dengan ada tambahan Bismillah di permulaam dzikir atau do’a. Yaitu: “Bismillah, Alloohumma innii a’uudzu bika minal khubutsi wal khobaaits”. Yang artinya: Dengan nama Allah, Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari (kejahatan) Syetan pria dan Syetan wanita. Ini berdasarkan hadits riwayat Imam Ibnu Syaibah dan dishahihkan Syekh al-Albani dalam Kitab Shahihul Jami’is Shaghir: 2/ 860. Wallohu ‘alam.

Rabu, 10 Februari 2021

Serial Jinnipedia Islami (14)

 



Bisakah Jin Qorin Diruqyah Atau Dibunuh?

By. Hasan Bishri, Lc. 

(Direktur Graha Ruqyah Salemba Jakarta, 081225211779)


Pada suatu hari, usai mengisi kajian Islam tentang Alam Ghoib, Penulis ditanya oleh seorang Jamaah tentang Jin Qorin. “Ustadz, apakah Jin Qorin kita bisa diruqyah?” Penulis tanya balik, “Untuk apa Bapak mau meruqyah Jin Qorin?” Dia menjawab: Agar Jin Qorin itu minggat dari kehidupan kita. Kalau perlu, Jin Qorin itu dibunuh saja Ustadz agar tidak mengajak kita kepada keburukan dan kemaksiatan. Agak kaget juga Penulis mendengarnya. Tapi itu pertanyaan yang menarik dan Penulis berusaha untuk menjawabnya sesuai sudut pandang Syari’at.

Di Serial sebelumnya sudah kita bahas bahwa Jin Qorin tidak bisa kita islamkan, karena islmnya Jin Qorin itu hanya khusus untuk Rasulullah saw. dan itu merupakan keistimewaan beliau. Sedangkan kita ummatnya, tidak bisa mengislamkan Jin Qorin masing-masing, apalagi mengusirnya atau membunuhnya. Karena keberadaan Jin Qorin itu sudah menjadi sunnatullah. Tapi jangan khawatir, kita bisa melemahkan dan menundukkan Jin Qorin kita, agar keberadaannya seperti ketiadaannya, karena ia menjadi tidak berdaya dan lemah. Lalu Bagaimana cara meruqyah Jin Qorin? agar ia jadi lemah tak berdaya.


Inilah Cara Meruqyah Jin Qorin

Kalau kita meruqyah Jin Qorin bertujuan untuk mengusirnya atau membunuhnya, itu tujuan yang tidak mungkin kita capai. Karena kita berusaha melawan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah. Jin Qorinnya Rasulullah saw. saja tidak diusir atau dibunuh, Jin itu tetap menemani Rasulullah saw. Tapi kalau kita meruqyah Jin Qorin untuk melemahkannya agar pengaruhnya tidak kuat, maka hal itu bisa kita lakukan dengan izin Allah. 

Simak hadits shahih berikut: Dari Abu Hurairah ra.: Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin bisa melemahkan syetannya, sebagaimana di antara kalian membuat lemah ontanya dalam perjalanan.” (HR. Ahmad dan dihasankan al-Albani, no. 3586). Di rwayat lain: Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata: “Syetan itu bercokol di hati anak Adam. Apabila ia berdzikir, maka akan melemah. Tapi jika ia lalai, maka akan melakukan was-was.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan di Ta’liq al-Bukhari dengan sanad yang shahih). 

Ya, hanya dengan dzikrullah kita bisa melemahkan kekuatan Syetan yang berusaha menganggu kita, termasuk melemahkan Jin Qorin yang selalu menyertai kita. Lakukan dzikir-dzikir yang telah diajarkan dan dicontohkan Rasulullah saw. diantaranya; Dzikir setelah shalat lima waktu, Dzikir pagi dan sore, Dzikir jelang tidur, Dzikir pada momentum tertentu. Rasulullah saw. telah menegaskan, “Begitulah seorang hamba, ia tidak bisa melindungi dirinya dari (kejahatan) syetan kecuali dengan dzikrullah.” (HR. Tirmidzi, dan ia menghasankannya)


Ini Akibat Jin Qorin yang Liar

Orang yang tidak bisa menundukkan dan melemahkan Jin Qorinnya, maka perilakuknya akan didominasi oleh bisikan Jin Qorin. Ia akan selalu mengikuti ajakan Jin Qorin, sehingga kemaksiatan demi kemaksiatan ia lakukan. Ia mengira bahwa Jin Qorin di akhirat nanti akan terus setia menemaninya, bahkan berharap Jin Qorin itu bisa menjadi pembelanya dan penyelamatnya dari adzab Neraka. Padahal justru Jin Qorin itu nanti akan berlepas diri darinya, dan merasakan adzab yang sama.

Allah menceritakan hal itu dalam al-Qur’an: “Dan berkatalah syetan tatkala perkara (hisab) telah dilakukan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menngingkarinya.  Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu janganlah kamu mencela aku, akan tetapi celalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku...” (QS. Ibrahim: 22)

Di surat lain, Allah ta’ala juga memberitahukan: “Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (pada hari Kiamat) dia berkata, "Wahai! Sekiranya (jarak) antara aku dan kamu (Qorin) seperti jarak antara timur dan barat! Memang syetan itu teman yang paling jahat (bagi manusia).” Dan (harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu pada hari itu karena kamu telah menzalimi (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu pantas bersama-sama dalam adzab itu.” (QS. az-Zukhruf: 38-39). Mari kita lemahkan dominasi Jin Qorin dengan memperbanyak dzikrullah seperti yang telah diajarkan Rasulullah.

Selasa, 09 Februari 2021

Serial Jinnipedia Islami (13)



 Bagaimana Cara Meislamkan Jin Qorin?

By. Hasan Bishri, Lc. 

(Direktur Graha Ruqyah Salemba Jakarta, 081225211779)


Apakah kita bisa mengislamkan Jin Qorin kita masing-masing? Kalau bisa, bagaimana caranya? Apakah dengan minta bantuan Peruqyah yang ahli, dan kita diruqyah setiap hari, itu bisa menjadikan Jin Qorin kita masuk Islam? Atau dengan melakukan ruqyah mandiri setiap hari Jin Qorin kita akan menjadi muslim yang baik? Sehingga Jin Qorin itu tidak lagi mempengaruhi kita untuk berbuat jahat.

Mungkin pertanyaan itu terinspirasi dari Hadits Nabi saw. berikut ini: Ibnu Abbas ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah setiap kalian, kecuali telah diberi Qorin dari Jin. Mereka (Para Shahabat) bertanya: kepada Anda juga wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Kepadaku juga, hanya saja Allah menolongku untuk mengatasinya sehingga ia masuk Islam, dan tidak menyuruhku kecuali pada kebaikan.” (HR. Muslim dan Ahmad)


Simak Penjelasan Imam Nawawi 

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Sabda Rasulullah dalam hadits tersebut: (Fa aslam) bisa dibaca: “fa aslamu atau fa aslama”. Kedua cara baca tersebut adalah riwayat yang sangat terkenal. Kalau dibaca “fa aslamu” artinya: Aku selamat dari kejahatan dan fitnahnya. Sedangkan jika dibaca “fa aslama” artinya: Qarin itu masuk Islam sehingga tidak menyuruh Nabi kecuali pada kebaikan. 

Ketahuilah bahwa Ummat ini telah sepakat bahwa Rasulullah saw. adalah pribadi yang Ma’shum (terjada) dari kejahatan syetan, baik jasadnya, perasaannya dan lisannya. Hadits tersebut menunjukkan bahwa kita harus waspada terhadap fitnah dan tipudaya Qorin. Rasulullah memberitahukannya agar kita bisa menghindari tipudayanya sebisa mungkin.” (Kitab Syarhu Muslim: 6/ 293).

Jadi ada dua poin penting yang harus kita catat dari penjelasan Imam Nawawi di atas. Pertama, jika hadits itu dibaca: Fa Aslamu, berarti Jin Qorin Rasulullah tidak masuk Islam, tetap kafir. Hanya saja Allah menyelamatkan Rasulullah dari bisikan jahatnya. Kedua, jika hadits itu dibaca: Fa Aslama, berarti berkat pertolongan Allah, Jin Qorin Rasulullah bisa diislamkan, sehingga ia tidak menyuruh Rasulullah kecuali yang baik. Apakah ini khusus untuk Rasulullah?


Bisakah Kita Mengislamkan Jin Qorin?   

Kalau Rasulullah saw. bisa mengislamkan Jin Qorinnya, apakah kita bisa mengislamkan Jin Qorin kita masing-masing? Sebagai jawabannya, mari kita simak pernyataan Imam al-Ashbahani rahimahullah, ia berkata: “Yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah: Qorinnya Rasulullah masuk Islam dan beriman, dan hal itu khusus untuk Rasulullah dengan islam dan iman Qorinnya, dan khusus berlaku hanya pada Rasulllah saw.” (Kitab Dalailun Nubuwwah: 1/ 185)

Maka dari itu, kita jangan disibukkan dengan usaha mendakwahi Qorin kita yang dari Jin agar dia masuk Islam. Termasuk berdo’a siang dan malam memohon kepada Allah agar Qorin kita masuk Islam, karena itu adalah usaha yang melampui batas Syari’at. Para shahabat Rasulullah saat mendengar tentang sepak terjang Qorin, mereka tidak minta tolong kepada Rasulullah agar berdo’a kepada Allah demi islamnya Qorin mereka, padahal mereka adalah generasi terbaik dari ummat ini, seperti Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali dan lainnya radhiyallahu ‘anhum. Mereka tidak menyibukkan diri untuk mendakwahi Jin Qorin atau mengislamkannya.

Oleh karenanya, Imam Nawawi rahimahullah mengajarkankan kepada kita, bahwa hadits tersebut merupakan peringatan keras dari Rasulullah untuk ummatnya agar selalu waspada terhadap Fitnah Qorin dan modus penyesatannya, makanya beliau memberitahukan hal yang ghaib itu (keberadaan Qorin) agar kita bisa menyelamatkan diri dari tipudaya Qorin sebisa mungkin. (Lihat Kitab Syarhu Muslim: 6/ 293). Kalau kita tidak mungkin mengislamkan Jin Qorin kita, mungkinkah kita melemahkan dan melumpuhkan Jin Qorin? Tunggu jawabannya di seri berikutnya insya Allah.

Senin, 08 Februari 2021

Serial Jinnipedia Islami (12)



 Siapakah Jin Qorin Anda?

By. Hasan Bishri, Lc. 

(Direktur Graha Ruqyah Salemba Jakarta, 081225211779)


Bagi sebagian orang merasa tidak asing lagi dengan kata Qorin, tapi bagi sebagian lainnya masih merasa asing dengan kata Qorin. Apa itu Qorin? Lalu apa kaitannya dengan kita sebagai manusia? Benarkah Qorin itu adalah saudara kembar kita yang ghaib atau tak kasat mata? Dan apakah setiap manusia itu punya Qorin, atau hanya sebagian saja? Masih banyak lagi pertanyaan lain terkait dengan Qorin yang terkadang muncul di benak kita.

Definisi Qorin menurut bahasa adalah: Yang selalu menemani dan menyertai. Jin Qorin berarti Jin yang selalu menyertai manusia dan tidak meninggalkannya. (Kamus al-Muhith: 1103). Jadi itu bukan saudara kembar manusia yang ghaib, seperti yang diyakini sebagian orang. Bagaimana dikatakan sebagai saudara kembar, padahal Qorin itu beda materi penciptaannya dengan manusia. Lalu bagaimana Syari’at Islam menjelaskan tentang Qorin yang sebenarnya?


Eksistensi Qorin dalam al-Qur’an dan as-Sunnah

Al-Qur’an telah menegaskan keberadaan Qorin dalam hidup manusia, di antaranya adalah: Qarinnya berkata: “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh”. Allah berfirman: Janganlah kalian bertengkar di hadapanku, sedangkan Aku telah memberikan ancaman kepada kalian. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah, dan Aku tidak akan menzhalimi hamba-hamba-Ku.” (QS. Qaf: 27-29).

Rasulullah saw. juga telah menjelaskan bahwa setiap manusia ada Qorin yang selalu menyertainya, termasuk Rasulullah saw. sendiri. Dari Abdullah bin Mas’ud ra. Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seorang dari kalian kecuali ia disertai patner dari Jin dan patner dari Malaikat. Mereka bertanya: Dan Engkau juga wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Ya, tapi Allah telah menolongku atasnya sehingga ia masuk Islam, dan tidak meyuruhku kecuali pada kebaikan.” (HR. Muslim)


Dua Qorin Manusia, Jin dan Malaikat.

Menurut ayat dan hadits yang tersebut diatas, berarti Qorin yang dimaksud itu bukanlah manusia yang menjadi teman akrab kita, baik itu teman sekolah, teman main, teman kerja atau teman medsos. Qorin yang dimasud adalah sosok yang Allah sertakan manusia dalam hidupnya, dan sosok itu adalah Jin dan Malaikat. Sehingga tidak mungkin kita definisikan Qorin itu sebagai saudara kembar manusia yang ghaib, karena Jin dan Malaikat itu beda materi penciptaannya dengan manusia.


Apa Tugas Qorin dalam Kehidupan Manusia?

Terkait dengan tugas Qorin atau fungsinya, Rasulullah saw. telah menjelaskan hal itu dalam haditsnya: Dari Abdullah bin Mas’ud ra. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya syetan itu punya bisikan bagi anak Adam, begitu pula malaikat. Adapun bisikan syetan adalah mengajak pada keburukan dan mendustakan yang haq. Sedangkan ajakan malaikat adalah mengajak pada kebaikan dan membenarkan yang haq. Siapa yang merasakan adanya ajakan malaikat berarti itu karunia Allah, hedaklah ia memuji Allah. Tapi siapa yang merasakan bisikan syetan, maka berlindunglah kepada Allah dari kejahatan syetan terkutuk. Lalu beliau membaca ayat: “Syetan menjanjikan kefakiran untuk kalian dan memerintahkan kekejian (QS. Al-Baqarah: 268). (HR. Tirmidzi dan ia menghasankannya)

DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata: “Adapun masalah setiap manusia memiliki qorin dari kalangan jin dan qorin dari kalangan malaikat maka hal itu benar, setiap manusia memiliki qorin dari malaikat yang membimbingnya kepada kebaikan dan qorin dari kalangan jin dan syetan yang mengarahkannya kepada keburukan, yang mana yang lebih kuat maka dia yang berjalan bersama manusia itu sebagai ujian dan cobaan dari Allah subhanahu wa ta’ala”. (Sahab.net)

Kita tidak usah heran kalau suatu saat kita merasakan ada pertarungan hebat dalam diri kita. Yang satu memprovokasi kita untuk berbuat jahat (maksiat), dan yang lainnya mengajak kita untuk berbuat taat (kebaikan). Itulah bukti nyata dari keberadaan dua Qorin manusia, yaitu Qorin Jin dan Qorin Malaikat. Dan yang akan menjadi penentu adalah keimanan kita. Jika Iman kita kuat, maka Qorin Malaikat menguat. Tapi jika iman kita lemah, maka Qorin Jin itu yang mendominasi. Lalu bagaimana caranya untuk melemahkan Qorin Jin? Ikuti Serial Jinnipedia Islam selanjutnya insya Allah.

Minggu, 07 Februari 2021

Serial Jinnipedia Islami (11)


 

Benarkah Jin Tidak Mati Sampai Kiamat?

By. Hasan Bishri, Lc. 

(Direktur Graha Ruqyah Salemba Jakarta, 081225211779)


Kita harus membedakan antara Iblis dan Jin, sebagaimana yang pernah kita bahas di Serial Jinnipedia Islami yang ke-7 (Beda antara Jin, Iblis dan Syetan). Jin itu komunitas besar, dan di dalamnya ada Iblis, Ifrit dan lainnya. Posisi Iblis dalam komunitas Jin seperti Adam dalam komunitas manusia. Dan yang mendapatkan penangguhan umur sampai Kiamat nanti hanyalah Iblis, bukan Jin keseluruhannya.

Salah kalau kita mengeneralisir bahwa semua jin itu ditangguhkan umurnya sampai Kiamat nanti, sehingga jin-jin yang ada di sekitar kita tidak bisa kita sakiti atau kita bunuh. Mereka adalah makhluk Allah yang punya kekurangan dan keterbatasan. Mereka bukanlah super power yang punya otoritas untuk berbuat seenaknya dan semaunya, termasuk dalam hal mengganggu manusia. Mereka semua dalam pengendalian dan kekuasaan Allah ta’ala.


Hanya Iblis yang Ditangguhkan Kematiannya

Simak dengan seksama firman Allah berikut: Iblis berkata, “Beri tangguh-lah aku sampai waktu mereka dibangkitkan”. Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” (QS. al-A’raf: 14-15). Di surat lain: Iblis berkata: "Ya Rabbku! Kalau begitu, beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan. Allah berfirman, "Kalau begitu, sungguh kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari yang telah ditentukan." (QS. al-Hijr: 36 – 38

Imam Ibnu Abbas ra. dan Imam as-Suddiy ra. serta ulama’ lainnya berkata: Allah menangguhkan Iblis sampai pada tiupan (Sangkakala) yang pertama, yang mana saat itu semua makhluk mati. Padahal permintaan Iblis semula minta ditangguhkan sampai hari kebangkitan (tiupan Sangkakala kedua), tapi Allah tidak mengabulkannya.” (Kitab Tafsir al-Qurthubi: 7/ 155)


Ini Dalil Kematian Jin

Berikut ini adalah di antara dalil yang menegaskan bahwa Jin secara keseluruhannya akan mengalami kematian seperti manusia, artinya mereka secara keseluruhan tidak ditangguhkan kematiannya. Ibnu Abbas ra. berkata: “Bahwasannya Nabi saw. pernah berkata dalam do’anya: Aku berlindung dengan keperkasaan-Mu yang tiada Tuhan selain Engkau yang tidak mati, sedangkan Jin dan Manusia semua mati.” (HR. Bukhari)

Di hadits shahih lainnya disebutkan: “Ya Allah, untukmu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakkal, kepada-Mu aku kembali, kepada-Mu aku mengadu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu yang tiada Tuhan selain Engkau agar tidak menyesatkanku, Engkau Dzat yang Maha hidup dan tak akan mati, sedangkan jin dan manusia semua mati.” (HR. Muslim).


Shahabat Nabi Membunuh Jin Penampakan

Abu Sa’id al-Khudri ra. berkata: “Dulu di rumah itu tinggal seorang pemuda yang baru saja melangsungkan pernikahan. Ketika itu kami (termasuk pemuda itu) sedang pergi bersama Rasulullah sebagai tentara pada Perang Khandaq. Pada suatu siang yang terik pemuda itu meminta izin kepada Rasulullah untuk pulang menemui istrinya. Beliau pun mengizinkannya pulang. “Bawalah senjatamu! Aku khawatir Bani Quraizhah akan membunuhmu.” pesan Rasulullah.

Pulanglah pemuda itu. Tak berapa jauh dari rumahnya ia mendapati istrinya sedang berdiri di antara dua pintu (pintu rumahnya dan pintu tetangganya). Melihat kejadian tersebut, marahlah ia. Ia hampir saja melemparkan tombaknya ke arah istrinya karena terbakar cemburu.

Sebelum terjadi, istrinya berteriak, “Jangan kau lempar tombakmu. Masuklah lebih dulu ke rumah, maka engkau akan tahu apa yang memaksaku keluar rumah!” Ia lalu masuk rumah, dan ia melihat seekor ular melingkar di atas ranjang. Dengan cepat ia menombak ular itu hingga tembus. Ia pun menenteng ular itu keluar rumah, tapi tiba-tiba ular itu menggeliat dan menggigitnya.

Tidak diketahui apakah ular atau pemuda itu yang lebih dahulu mati. Lalu kami menghadap Rasulullah dan menceritakan apa yang terjadi. Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Ia menghidupkannya kembali!” minta kami.

Beliau menjawab, “Sungguh, di Madinah ini ada sekelompok jin yang sudah masuk Islam. Jika kalian melihat salah satu dari mereka, maka usirlah ia dengan halus selama tiga kali. Bila setelah itu ia muncul lagi, tidak pergi meninggalkan rumah, maka bunuhlah karena ia adalah syetan (jelmaan jin kafir)”. (HR. Muslim)

Imam Mujahid ra. (seorang generasi Tabiin) pernah memberikan testimoni dari pengalamannya sendiri: “Di suatu malam saat saya mau shalat (tahajjud) ada sosok yang nongol di depanku menyerupai anak ABG. Saya pun bersikap keras padanya (menghajarnya), lalu dia melompati tembok sampai aku mendengar bunyi jatuhnya, setelah itu ia pun tidak pernah nongol lagi.” (Kitab Akamul Marjan: 137).